Sumber: http://farm6.static.flickr.com/5262/5579460130_a282819dbd.jpg
Ong Hok Ham, Onghokham, OHH, Sinyo Hans, Baba Ong, Onze Ong (Surabaya, 1 Mei 1933 – Jakarta, 30 Agustus 2007 pada umur 74 tahun), adalah seorang sejarawan dan cendekiawan Indonesia.
Sejarah Ong Hok Ham
Beliau lahir di Surabaya, 1 Mei 1933. Dilahirkan sebagai “Cina Peranakan”. Setelah lulus dari ELS (Europese Lagere School) sekitar tahun 1950-an, ia melanjutkan studinya ke HBS (Hogere Burger School). Pada saat studinya di HBS ini ia mulai tertarik dengan sejarah. Pelajaran sejarah Belanda dan Eropa ia dapatkan dari Boeder Rosarius, guru sejarah yang ia kagumi. Ong Hok Ham gemar sekali melahap buku-buku sejarah, terutama mengenai Revolusi Prancis (1789) serta berbagai peristiwa yang dramatis.
Ong Hok Ham juga merupakan mantan dosen di Universitas Indonesia. Disertasinya selesai ditulis tahun 1975 dengan judul The Residency Of Madiun . Priyayi and Peasant in the Nineteeth Century dan gelar Doktor diraihnya dari Universitas Yale – Amerika Serikat. Buah pemikiran Ong diabadikan dalam wujud pusat pelajaran sejarah Ong Hok Ham Institute di Jakarta Timur. Ia pensiun dari Universitas Indonesia pada tahun 1989.
Sebagai sejarawan, ia piawai menjadi “saksi langsung” dan tahu “tentang apa yang terjadi” terhadap peristiwa yang menjadi perhatiannya. Sebagai cendikiawan, ia peka terhadap denyut kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat sekitarnya. Kombinasi keduanya menjadikan karya dan pemikiran Onghokham unik dan inspiratif. Uraiannya mengenai peran dan sosok jago dalam sejarah Indonesia periode kolonial memberikan pemahaman kongkrit tentang bagaimana sifat dan bentuk kekuasaan politik di Indonesia, paling tidak sepanjang periode kekuasaan otoriter Orde Baru. Begitu juga ulasannya mengenai tuyul yang mencerminkan kesarjanaan dan kecendikiawanan Onghokham dalam mengangkat psikologi populer rakyat petani di pedesaan Jawa dalam menghadapi krisis dan eksploitasi.
Ong Hok Ham meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 2007 karena stroke. Sebelumnya ia juga pernah terkena serangan stroke pada tahun 2001. Namun hal ini tidak mengganggu semangatnya untuk menulis, meskipun hanya dengan tangan kanannya.
Tentang Ong Hok Ham
Selain dikenal pandai mengolah sejarah, pak Ong juga seorang kolumnis yang gemar makan. Seorang gourmet (ahli mencicipi/menilai makanan) dan juga koki. Sebenarnya kepandaian dia memasak di dapat saat kuliah di Yale. Tidak salah apabila sekembali dari Yale, ia mendapat dua gelar yaitu sebagai doktor dan koki. Pak Ong merupakan pengajar yang unik. Ong lebih senang bepergian dengan bus. Menurutnya dengan naik bus, dia dapat mengetahui dan mengamati bagaimana kehidupan masyarakat di luar.
Pak Ong sangat senang menyantap tempe Malang, sambal gandaria, bandeng bakar, jangkang, nasi rawon dan telur asing yang masih masir (berserbuk). Pak Ong juga hobi minum kopi robusta yang ia beli di Stasiun Jatingera dan menghisap rokok Gudang Garam filter. Mengenai selera kuliner Chinese, beliau gemar mengudap babi panggang, babi hong, bakut tei, mie dan pangsit goreng, baso tahu dll. Di siang hari dia akan menjadi pria yang sederhana, namun di kala malam dia sudah siap berpesta bersama kolega-kolega asing dan berbincang-bincang dengan bahasa Belanda serta bahasa Inggris. Onze Ong memang bergaya kosmopolitan.
Selain itu Ong Hok Ham juga menggemari masakan Eropa. Contohnya seperti, pate, Hungarian salami, Scandinavian salmon smoked, berbagai jenis keju, roti baguette dan masih banyak lagi. Mengenai minuman favorit dari pak Ong jelas Scotch whisky. Pak Ong juga gemar meminum bir, serta wine. Mengenai Scotch whisky, pak Ong mengaku pertama kali mengenal minuman tersebut saat menjadi liasion officer di KAA Bandung tahun 1955. Di tiap malam ia seringkali mabuk. Parahnya lagi, pak Ong juga sering datang mengajar dalam kondisi setengah mabuk. Kebiasaan minumnya masih ia lakukan, biarpun dirinya terkena serangan stroke pada tahun 2001. Beliau terkena serangan stroke saat mau menghadiri perayaan 80 tahun Pak Sartono di Jogja, Februari 2001. Ia pun langsung dilarikan ke RS Panti Rapih, dan semenjak itu beliau harus memakai kursi roda. Anehnya disaat sedang sekarat, ia masih sempat-sempatnya memikirkan isi lemari es dan koleksi alkohol. Sungguh pribadi yang unik.
Oleh mahasiswa atau mahasiswinya, pak Ong dikenal sebagai dosen killer. Ia kerap meneror murid-muridnya dengan pertanyaan yang susah. Bahkan tidak segan-segan ia melempar penghapus papan tulis ke arah muridnya yang tidak bisa menjawab pertanyaannya serta ribut dikelas. Kata-kata goblok sering beliau lontarkan kepada para muridnya. Untuk mahasiswa atau mahasiswi yang malas membaca, sering dikatakan “bayi-bayi besar yang buta huruf”. Tradisi membaca memang beliau tanamkan kepada murid-muridnya di UI. Selain killer, pak Ong juga unik. Beliau seringkali membawa ikan segar yang habis dibeli dipasar ikan, bau amis pun mencemari ruang kelasnya. Ia tidak mengajar penuh di UI, umur 55 tahun beliau pensiun dari UI. Ia terpaksa berhenti disaat pangkatnya masih golongan III C. Ada yang mengatakan bahwa ia terpaksa pensiun karena nomor pegawainya tiba-tiba hilang.
Sosok satu ini paling senang menghadiri pesta-pesta. Bukan karena soal makanan, tapi juga mencari gelas yang isinya alkohol. Ong Hok Ham juga sering menggelar pesta dirumahnya yang terletak di daerah Cipinang, terutama saat beliau ulang tahun. Makanan yang disajikan ia masak sendiri. Dan bahan-bahannya juga ia beli sendiri. Ia akan naik kendaraan umum untuk berangkat ke Pasar Senen membeli daging babi, lalu ke Blok M membeli daging sapi dan mencari ikan bandeng segar di Pasar Pagi. Dimalam hari begitu banyak kolega-koleganya yang hadir. Mulai dari kalangan intelektual, artis, seniman, duta besar, politikus dll. Menurut Takashi Shiraishi, pesta yang diadakan oleh Ong adalah pesta yang menghidangkan nice meal, nice drink, and nice talk.
Ong Hok Ham di Indonesia
Ia sering menulis pada kolom sejarah di majalah Tempo, Begitu juga dengan karyanya, Beberapa buah karya Ong Hok Ham yang telah dipublikasikan antara lain, Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara (2003) yang merupakan kumpulan tulisan beliau di Harian Kompas. Selanjutnya, Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang (2003), buku ini berisi 70 buah karangan Ong di Majalah Tempo. Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa (2005), yang didalamnya terdapat 14 buah tulisannya di Star Weekly. Selain itu ada pula buku The Thugs, the Curtain, and the Sugar Lord – Power, Politics, and Culture in Colonial Java (2003), Negara dan Rakyat (1983), Runtuhnya Hindia Belanda (1987), Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina: Sejarah Etnis Cina di Indonesia lalu Sukarno: Orang Kiri, Revolusi dan G 30 S 1965. Lalu ada juga tulisan Ong yang berjudul “The Inscrutable and the Paranoid: an Investigation into the Sources of the Brotodiningrat Affair” dalam bukuSoutheast Asian Transition, Approaches Through Social History (ed) Ruth Mc Vey, sebuah buku persembahan untuk Prof. Harry J. Benda.
Ia juga salah satu sejarawan yang berani mengkritik penguasa Orde Baru yang otoriter dan militeristik, meski lewat opini yang disamarkan dengan mengambil peristiwa sejarah periode kolonial. Keberanian Ong diakui sejarawan lain dan para sahabatnya. Lain halnya dengan mendiang Prof. Sartono Kartodirjo, Begawan Sejarah Indonesia. Ketidaksenangan dengan penguasa lebih diperlihatkan pada upaya diam, tanpa reaksi keras. Contoh, beliau undur diri dari tim penulisan Sejarah Nasional Indonesia edisi terakhir.
Berkat kecerdasan dan keseriusan, sejarawan berdarah Tionghoa ini berhasil menyelesaikan gelar doktor di Yale University, Amerika Serikat tahun 1975. Dan tidak ala kadarnya bersekolah, Ong melahirkan disertasi bermutu. Tidak tedeng aling-aling Benyamin White, guru besar pada Institut Studi Sosial, Belanda, memberikan pernyataan tegas, “kalau orang mau belajar sejarah petani Indonesia, dia mutlak harus membaca dua buku, yaitu disertasi Sartono Kartodirdjo, “The Peasant’s Revolt of Banten in 1888” dan Onghokham “The Residency of Madiun: Priyayi and Peasant in the 19th Century”. Menurut White, kedudukan Ong sejajar dengan Sartono dalam studi tentang sejarah petani di Indonesia khususnya di Pulau Jawa.
Prof. Sartono pernah melontarkan sebuah sindiran kepada Ong: “Kapan Ong ini mau keluar dari Madiun”. Sebuah candaan mengenai disertasi Ong Hok Ham yang isinya tentang petani dan priyayi di Madiun. Ong Hok Ham memang sejarawan yang handal, ia mengembangkan sebuah pendekatan global dalam studi sejarah Indonesia. Maksudnya, kita harus paham sejarah dunia, khususnya sejarah Eropa dan Asia apabila ingin menulis sejarah Indonesia pada masa kolonial agar analisis dan rekonstruksinya tepat. Beliau mengajarkan sebuah pendekatan global untuk rekonstruksi dan metodologi sejarah yang pada akhirnya untuk karya historiografi Indonesia. Ong Hok Ham pernah mendirikan dan mengetuai LSSI (Lembaga Studi Sejarah Indonesia). Yang tujuannya mengembangkan studi sejarah Indonesia lebih luas dan mendalam. Namun LSSI tidak dapat bertahan lama, ditambah kondisi pak Ong yang semakin rapuh. Menurut Bambang Purwanto dalam buku Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?!, pak Ong telah menyumbangkan sebuah warna lain dalam memahami sejarah Indonesia dan menawarkan beberapa gagasan alternatif di tengah-tengah arus historiografi yang dominan. Sejatinya, Ong Hok Ham memang sejarawan yang hobinya teler, namun dia telah membuktikan sebuah kajian sejarah kritis kepada kita.
Sumber :
- https://id.wikipedia.org/wiki/Ong_Hok_Ham
- http://ruangtempur.blogspot.co.id/2013/01/ong-hok-ham-intelektual-eksentrik.htm
- https://serbasejarah.wordpress.com/2009/06/06/mengenal-sejarawan-indonesia-ong-hok-ham-dan-sejarah-indonesia/

Tidak ada komentar :
Posting Komentar